PEMIMPIN_PENULIS BUKU BEST SELLER DAN IDEOLOGIS_PENGUSAHA SUKSES

Kamis, 09 Juli 2015

Astagfirullah...

JAKARTA, BERITAKALTARA.COM- Mengutip data  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  hingga 2014 ini pendidikan-seksmenunjukkan,  setengah dari jumlah gadis muda perkotaan dan 62,7 persen  pelajar putri SMP tidak perawan.
Hasil  survei  Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS-PA) di waktu tak berbeda jauh juga menunjukan angka itu.  Sementara 21,2 persen dari para siswi SMP tersebut mengaku pernah melakukan aborsi ilegal. Dari survei yang diselenggarakan KOMNAS-PA tersebut terungkap bahwa tren perilaku seks bebas pada remaja Indonesia tersebar secara merata di seluruh kota dan desa, dan terjadi pada berbagai golongan status ekonomi dan sosial, baik kaya maupun miskin.
Data tersebut diperoleh berdasarkan survei oleh KOMNAS-PA  yang dikumpulkan dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kotabesar. Berdasarkan data tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi IX mendesak BKKBN agar segera meningkatkan sosialisasi program pemerintah yang disebut Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) kepada siswa- siswi di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. “Ini dilakukan sebagai antisipasi meningkatnya perilaku seks bebas pada remaja yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Pemerintah harus meningkatkan program sosialisasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja,” kata  anggota Komisi IX DPR-RI, Herlini Amran.
Temuan itu KOMNAS-PA juga menunjukan  97 persen  remaja SMP  mengaku pernah menonton film porno, dan 93,7 persen remaja itu mengaku pernah melakukan berbagai macam adegan intim lawan jenis sesama pelajar. Oleh sebab itu Komisi IX DPR melihat bahwa pemerintah perlu meningkatkan adanya Pusat Informasi dan Konseling (PIK) untuk remaja di daerah- daerah dan harus terus dilakukan pemantauan dari waktu ke waktu.
Herlini Amran menyampaikan pendapatnya, bahwa jika tidak segera dilakukan antisipasi terhadap kasus ini, maka dikhawatirkan akan berisiko besar bagi masalah kependudukan di Indonesia yang selanjutnya akan memicu timbulnya generasi bangsa Indonesia dengan kualitas rendah. Dari data temuan KOMNAS-PA dan BKKBN tersebut bisa diambil suatu kesimpuan bahwa tren perilaku seks bebas di kalangan remaja Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Di tempat berbeda  Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Sudibyo Alimoeso, mengakui bahwa saat ini masalah perilaku seks bebas dikalangan remaja tergolong kompleks dan sangat mengkhawatirkan. Hal ini, menurutnya, dipicu oleh kurangnya pengetahuan akan kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang benar.
Lebih lanjut Sudibyo menyatakan, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) sampai penghujung 2013,  diperoleh temuan bahwa remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pra nikah adalah remaja berusia antara 13 sampai 18 tahun. Dari data tersebut sebanyak 62,7 persen dari para remaja itu mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim dan mengaku melakukannya di rumah sendiri.
Pertumbuhan budaya seks bebas di kalangan pelajar mulai mengancam masa depan bangsa Indonesia. Pemerintah menemukan indikator baru yakni makin sulitnya menemukan remaja putri yang masih memiliki keperawanan (virginity) di kota-kota besar BKKBN) berdasar survei menyatakan separuh remaja perempuan lajang muda yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi kehilangan keperawanan dan melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil di luar nikah. Rentang usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah antara 13-18 tahun.
 “Berdasar data yang kami himpun dari 100 remaja, 51 di antaranya sudah tidak lagi perawan,” Ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief ketika ditemui dalam peringatan Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas.
Ironisnya, temuan serupa juga terjadi di kota-kota besar lain di Indonesia. Selain di Jabodetabek, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain. Di Surabaya misalnya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen.
“Ini ancaman yang diam-diam bisa menghancurkan masa depan bangsa, jadi harus segera ditemukan solusinya,” ujar Sugiri.
Maraknya perilaku seks bebas, menjadi pemicu  meluasnya kasus HIV/AIDS. Mengutip data dari Kemenkes  kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak ada di kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum suntik (40,4 persen).  #kony fahran

(berita dari http://beritakaltara.com/?p=2053)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar