JAKARTA, BERITAKALTARA.COM- Mengutip data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hingga 2014 ini
menunjukkan, setengah dari jumlah gadis muda perkotaan dan 62,7 persen pelajar putri SMP tidak perawan.
Hasil survei Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS-PA) di waktu tak berbeda jauh juga menunjukan angka itu. Sementara
21,2 persen dari para siswi SMP tersebut mengaku pernah melakukan
aborsi ilegal. Dari survei yang diselenggarakan KOMNAS-PA tersebut
terungkap bahwa tren perilaku seks bebas pada remaja Indonesia tersebar
secara merata di seluruh kota dan desa, dan terjadi pada berbagai
golongan status ekonomi dan sosial, baik kaya maupun miskin.
Data tersebut diperoleh berdasarkan survei oleh KOMNAS-PA yang
dikumpulkan dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kotabesar.
Berdasarkan data tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi IX
mendesak BKKBN agar segera meningkatkan sosialisasi program pemerintah
yang disebut Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR)
kepada siswa- siswi di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. “Ini
dilakukan sebagai antisipasi meningkatnya perilaku seks bebas pada
remaja yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Pemerintah harus
meningkatkan program sosialisasi yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi remaja,” kata anggota Komisi IX DPR-RI, Herlini Amran.
Temuan itu KOMNAS-PA juga menunjukan 97 persen remaja SMP mengaku
pernah menonton film porno, dan 93,7 persen remaja itu mengaku pernah
melakukan berbagai macam adegan intim lawan jenis sesama pelajar. Oleh
sebab itu Komisi IX DPR melihat bahwa pemerintah perlu meningkatkan
adanya Pusat Informasi dan Konseling (PIK) untuk remaja di daerah-
daerah dan harus terus dilakukan pemantauan dari waktu ke waktu.
Herlini Amran menyampaikan pendapatnya, bahwa jika
tidak segera dilakukan antisipasi terhadap kasus ini, maka dikhawatirkan
akan berisiko besar bagi masalah kependudukan di Indonesia yang
selanjutnya akan memicu timbulnya generasi bangsa Indonesia dengan
kualitas rendah. Dari data temuan KOMNAS-PA dan BKKBN tersebut bisa
diambil suatu kesimpuan bahwa tren perilaku seks bebas di kalangan
remaja Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Di tempat berbeda Deputi
Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Sudibyo
Alimoeso, mengakui bahwa saat ini masalah perilaku seks bebas dikalangan
remaja tergolong kompleks dan sangat mengkhawatirkan. Hal ini,
menurutnya, dipicu oleh kurangnya pengetahuan akan kesehatan reproduksi
dan perilaku seksual yang benar.
Lebih lanjut Sudibyo menyatakan, berdasarkan data
yang dikumpulkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
sampai penghujung 2013, diperoleh
temuan bahwa remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pra
nikah adalah remaja berusia antara 13 sampai 18 tahun. Dari data
tersebut sebanyak 62,7 persen dari para remaja itu mengaku tidak
menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim dan mengaku
melakukannya di rumah sendiri.
Pertumbuhan budaya seks bebas di kalangan
pelajar mulai mengancam masa depan bangsa Indonesia. Pemerintah
menemukan indikator baru yakni makin sulitnya menemukan remaja putri
yang masih memiliki keperawanan (virginity) di kota-kota besar BKKBN)
berdasar survei menyatakan separuh remaja perempuan lajang muda yang
tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi kehilangan keperawanan
dan melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil
di luar nikah. Rentang usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks
di luar nikah antara 13-18 tahun.
“Berdasar
data yang kami himpun dari 100 remaja, 51 di antaranya sudah tidak lagi
perawan,” Ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief ketika ditemui dalam
peringatan Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas.
Ironisnya, temuan serupa juga terjadi di kota-kota
besar lain di Indonesia. Selain di Jabodetabek, data yang sama juga
diperoleh di wilayah lain. Di Surabaya misalnya, remaja perempuan lajang
yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen,
Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen.
“Ini ancaman yang diam-diam bisa menghancurkan masa depan bangsa, jadi harus segera ditemukan solusinya,” ujar Sugiri.
Maraknya perilaku seks bebas, menjadi pemicu meluasnya kasus HIV/AIDS. Mengutip data dari Kemenkes kasus
HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157
kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1
persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen). Kasus penularan HIV/AIDS
terbanyak ada di kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum
suntik (40,4 persen). #kony fahran
(berita dari http://beritakaltara.com/?p=2053)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar